
Bekerjasama dengan British Council, FreSh kembali mengadakan acara rutin bulanannya dengan tema Inspiration Night pada Rabu, 23 September 2010. Fokus yang diangkat malam tersebut adalah mengenai pariwisata di Indonesia dan bagaimana dunia online serta kreativitas berperan didalamnya.
Inilah pertama kali FreSh Jakarta melakukan acara di luar daerah ibukota Jakarta, tepatnya di hotel Santika Serpong Tangerang. Diantara peserta yang hadir adalah masyarakat kreatif, online, pengusaha muda, dan mahasiswa-mahasiwi dari daerah Karawaci, Serpong, Depok, dan kota Tangerang, serta para FreShers dari Jakarta yang amat-amat setia mengikuti acara ini menerjang mautnya macet rush hour pulang kantor dari Jakarta.
Selain itu juga hadir para partisipan dari IYCE (Indonesian Young Creative Entrepreneur) dan CEC (Community Entrepreneur Challenge) British Council. Total attendance malam itu mencapai lebih dari 120 orang, tidak terhitung mereka yang datang telat dan tidak register.
FreSh menghadirkan tiga pembicara pada malam itu, yaitu Nukman Luthfie (Virtual Consulting), Panca Sarungu (Indonesian Travel Expo), dan Riri Riza (Miles Films).
Pembicara pertama pada malam itu adalah pak Nukman Luthfie dari Virtual Consulting. Beliau menjelaskan mengenai pentingnya online selling dan branding pada produk-produk lokal serta pariwisata. Dari pentingnya cara mengemas sebuah produk dengan bena, hingga mengemas sebuah paket perjalanan atau wisata menjadi sebuah hal yang menarik. Kepuasan pelanggan serta cara kita berinteraksi dengan mereka juga penting, baik itu disampaikan secara personal atau dengan memantau via social media. Belia juga secara singkat memperkenalkan Juale.com sebagai tempat untuk menjual secara online.
Panca Sarungu yang memulai bisnis wisatanya secara online dengan Bulanmadu.com dan IndoMICE.com menceritakan sedikit pengalamannya serta mengenai proyeknya 2 tahun terakhir ini mengadakan event offline pariwisata bertajuk Indonesian Travel Expo yang merupakan ajang expo pariwisata terbesar di Indonesia. Event tersebut mempromosikan pariwisata-pariwisata Indonesia dan menjualnya secara paket dan bulk sales kepada agen-agen perjalanan baik dalam dan luar negeri. Ia juga berbagi mengenai prospek pariwisata 2011 serta bagaiman sebuah daerah dapat menjadi sebuah daerah wisata yang menjual.
Pembicara terakhir kita pada malam itu adalah Riri Riza. Beliau berbicara mengenai pengalamannya di pulau Belitung saat hunting lokasi untuk Laskar Pelangi. Ia menceritakan proses pra produksi hingga pasca produksi, serta dampak film serta novel terhadap pariwisata di Belitung dan kesempatan-kesempatan yang digunakan penduduk setempat.
Ia juga mengangkat pentingnya pemerintah serta masyarakat untuk menyadari kekuatan dari film, bagaimana pemda negara lain memberikan uang kepada pembuat film untuk shooting di kota/daerah mereka sehingga mereka terekspos, dan biasanya pembuat film akan menghabiskan 3-4 kali uang yang diberikan oleh pemda. Selain ada income di daerah mereka karena ada film, tapi juga ada imbas turisme secara tidak langsung hasil dampak film tersebut, baik dalam bentuk awareness hingga minat secara langsung.
Terima kasih kepada para FreShawan dan FreShwati yang telah hadir, begitu pula dengan masyarakat, mahasiswa dan seluruh peserta yang hadir dalam perhelatan FreSh di BSD kali ini, memupuk semangat kamu untuk melaksanakan beberapa acara FreSh di luar Jakarta seperti di Depok, Bekasi atau Bogor di kedepannya. Terima kasih sebesar-besarnya untuk para pembicara dan British Council. Sampai bertemu di acara FreSh berikutnya.














The first day was opened with mrs.Rini getting input on the participant’s expectations of the training, with a mix of ice breaking and simple exercises to set the pace. Day one of the training was mostly filled with my training materials on Community Involvement & Engagement in the first half of the day, and with Marketing Analysis on the later part of the day. With Sano’s help, we managed to get a lively discussion on both topic with time to spare. We even had time to squeeze in Fajar’s topic on 
Mr.Heri from the British Council announced the 10 finalist of the CEC, after which we carried out a world-cafe session where the 10 semi finalists had to present their business model canvas in just 2 minutes to every table. This is the first world cafe success for me, since I’ve never had a successful world cafe exercise.
The day was closed by a presentation from mr.Wahyu from AKSI (Indonesian Association of Social Entrepreneurs) which explained the programs of the organization and how to be part of it. After that mrs.Rini and I closed the training with awarding the top three participants of the program.
Ngaca, Poles Penampilanmu, Be Prepared













