Conversations With A Sushi Chef

2 May

Minggu ini saya sedang tidak mood memasak karena baik saya dan istri berdua lembur di kantor masing-masing weekend ini. Sambil menunggu menjemput istri, saya mampir ke sushi bar favorit saya di Mall Kelapa Gading, yaitu restoran Ippeke Kaiten Sushi.

Terletak di lantai dasar MKG3, Kaiten sushi selalu penuh dengan ekspatriat dari Jepang. Salah satu alasannya adalah chef Saitoh yang memang Jepang tulen. Walau masih muda, sushi chef satu ini setidaknya membawa otentitas rasa “ke-Jepang-an” dalam hidangannya menurut seorang ekspatriat Jepang yang duduk disebelah saya.

“Jauh lebih enak dari dua restoran yang diujung mall ini”, tambah pria Jepang yang duduk disebelah saya. Ia seorang expatriat yang bekerja di pabrik mobil Jepang ternama yang terletak di daerah Sunter. Pria inilah yang memperkenalkan saya dengan sang sushi chef Ippeke: Chef Saitoh.

Chef Saitoh merupakan orang yang cukup ramah dan sangat pandai berbahasa Indonesia walau logat Jepangnya masih amat kental. Layaknya seorang chef sushi, ia sangat perhatian pada presentasi makanannya, baik saat ia membuatnya hingga disajikan ke pelanggan. Ia tidak segan memanggil kembali pelayan yang sudah membawa makanannya jika cara membawa makanan dalam nampannya salah, dan kembali ia susun sesuai dengan presentasi yang ia kehendaki.

Dalam perbincangan kami sembari ia menyiapkan maki set pesanan saya, saya bertanya mengapa ia mau menjadi sushi chef di Indonesia. Alasannya pun tak jauh beda dengan kebanyakan ekspatriat yang saya temui baik Jepang maupun Eropa dan Amerika; Dengan gaji yang diterimanya, ia bisa hidup sangat kecukupan di Indonesia dibanding di negara asalnya.

Salah satu alasan yang cukup berbeda adalah mengenai senioritas. Chef Saitoh mengatakan bahwa jika ia masih di Jepang dan bekerja di restoran besar disana, ia belum bisa menjadi chef utama, antrian menjadi chef utama sangatlah panjang. Antara ia membuka kedai sendiri atau bekerja di restoran kecil jika ia ingin cepat menjadi chef, tapi membuka kedai sendiri amat mahal dan gaji kerja di restoran kecil amatlah kecil untuk hidup sembari membayar pinjaman untuk ia sekolah dulu.

Chef Saitoh sendiri sudah 8 tahun tinggal di Indonesia, dan saat bertanya berapa lama lagi ia berencana tinggal di Indonesia, ia menjawab: “Selamanya mungkin, saya ingin pensiun nanti buka restoran sushi di Bali”.

Well good luck to you chef Saitoh, Kampai!

2 Responses to “Conversations With A Sushi Chef”

  1. Mansur February 21, 2011 at 10:01 am #

    chef saithoh, ya dia chef ku…

    • Chandra Marsono February 21, 2011 at 10:44 am #

      Oh ya? Bapak yang punya ippeke?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: