Social Entrepreneurship: From one to many

12 Jun

Sudah kurang lebih 10 tahun saya mendirikan dan bekerja pada perusahaan sendiri, dan kurang lebih 3 tahun belakangan ini saya bergerak untuk meciptakan lebih banyak entrepreneur di Indonesia, namun baru kali ini saya menemukan mahluk bernama Social Entrepreneurs. Pada tanggal 7 Juni 2010 lalu, saya diundang oleh British Council untuk mempelajari lebih dalam mengenai Social Entrepreneurship dari seorang ahli asal Social Enterprise Europe; Cliff Southcombe. Workshop pelatihan pelatih tersebut diadakan di Kemang dan didanai oleh Arthur Guinness Fund (AGF).

Social Entrepreneurship bukanlah sebuah hal yang baru. Jika anda tahu akan keberadaan perusahaan Mondragon atau klub sepakbola Barcelona FC, mereka itu merupakan social enterprise. Dalam sejarahnya, bentuk dan ide dari social enterprise sendiri tercatat sudah ada sejak pertengahan abad ke-19 di Inggris. Bentuk itu kemudian berkembang di abad ke-20, tercatat pionir-pionir antara lain John Durand, Jack Dalton, Mimi Silbert dan Professor Muhammad Yunus [1].

Namun mahluk apakah Social Entrepreneur itu?
Social Entrepreneur adalah seoran inisiator atau sekumpulan orang dalam satu komunitas yang mendirikan sebuah usaha bersifat co-operative dengan tujuan sosial namun juga profit oriented dan sustainable. Usaha yang dibuat itu bernama Social Enterprise. Walaupun “profit oriented”, namun profit tersebut digunakan untuk membuat sebuah community wealth atau kekayaan masyarakat, serta meminimalisir keluarnya uang dari masyarakat sehingga meningkatkan perekonomian setempat.

Berbeda dengan koperasi yang sudah ada, sebuah social enterprise secara kepemilikan dan kuasa ditangan masyarakat yang membangunnya beserta mitra-mitranya. Mereka yang bekerja untuk sebuah social enterprise mendapatkan gaji, sebagian profit digunakan untuk membangun perusahaan, dan sebagian lagi digunakan untuk memajukan daerah dan masyarakat atau untuk mendirikan sebuah social enterprise baru yang menangani bidang yang lain.

Optimalnya sebuah social enterprise menjadi professional dalam satu bidang dan bukan menjadi sebuah usaha yang bergerak di banyak bidang, sehingga lahir banyak social enterprise dalam satu lingkungan masyarakat, mengurangi pengangguran dan setiap social enterprise menjadi usaha yang ahli pada bidangnya. Jika memang perlu, social enterprise yang pertama dapat menjadi sebuah holding company untuk social enterprise lainnya.


[1] A Reader in Social Enterprise – Sealey, Boschee and Emerson, 2000.

2 Responses to “Social Entrepreneurship: From one to many”

  1. Marcella April 9, 2011 at 1:18 am #

    Pak Chandra,

    Saya tertarik untuk mendirikan social entreprise.
    Pertanyaannya:
    untuk legalitas, social entreprise ini dalam bentuk hukum apa ya? apakah PT? Jika PT apakah mengurusnya sama seperti pendirian PT lainnya atau mengurusnya ke Department social?
    Terima kasih.

    • Chandra Marsono April 11, 2011 at 1:45 am #

      Social dalam sebuah social enterprise itu lebih pada misi atau nawaitu-nya, jadi tidak perlu adanya hubungan dengan departemen sosial.
      Untuk payung legalitas hukum, sebuah social enterprise dapat berdiri selayaknya usaha pada umumnya, dibawah sebuah CV atau PT, yang membedakan sebuah social enterprise dibanding perusahaan tradisional adalah pemiliknya serta misinya. Social enterprise bukanlah sebuah perusahaan dengan tujuan sosial.

      Jika Marcella ada waktu, silahkan ikut acara FreSh bulan April ini di @AtAmerica Pacific Place, Jakarta pada tanggal 21 April 2011, karena topik yang diangkat adalah mengenai social enterprise.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: