FreSh: Fallen DotComs

1 Nov

Bertempat di Thamrin City, semalam (29/10/2010) diadakan Freedom of Sharing atau FreSh mengenai dotcom-dotcom yang telah crash priode 1998-2005, yaitu era first bubble dan post bubble sebelum era kebangkitan dotcom (2007 hingga kini). Mengambil judul FreSh Fallen DotComs, committee FreSh ingin menghadirkan para pelaku bisnis dotcoms yang sudah crash dengan tujuan agar mereka dapat menceritakan mengapa dotcom mereka bisa crash, dan pelajaran apa yang dibawa dari pengalaman tersebut.

Acara malam itu juga diramaikan oleh kehadiran kawan-kawan dari FreSh daerah lain, yaitu Didut (RoTi FreSh) dan Bryan (FreSh Surabaya). Didut bercerita sedikit mengenai sepak terjang RoTi FreSh yang kini telah menginjak 1 tahun lebih melakukan kegiatan dan rencana mereka kedepan untuk melakukan penetrasi FreSh pada sekolah-sekolah.

Back to the main topic of the show, para pembicara malam itu adalah Surya Witoelar (ex CEO nasgor.com dan koridor.com), Akbar Zainuddin (ex CEO ojolali.com), dan Dibya Pradana (ex grouphead radioclick.com). Mereka mewakili dotcom first bubble, sedangkan Aria Rajasa (ex CEO sharingfoto.com) mewakili era post bubble.

Akbar Zainuddin bercerita tentang awal mula ojolali.com yang berawal sebagai experimental lab yang lalu berkembang menjadi portal jual beli. Ia menjelaskan pentingnya saat itu untuk mendapatkan user dengan sistem registrasi, dan mempertahankan loyalti mereka dengan newsletter. Ojolali berhasil menggaet 20.000 user hingga akhir hayatnya, angka yang besar untuk tahun 2002.

Dibya Pradana yang secara tidak resmi mewakili radioclick.com (karena John Tumiwa berhalangan hadir, Dibya hadir sebagai penonton, ditembak ditempat jadi pembicara) menceritakan bagaimana konsep radioclick yang berupa shopping portal bagi para komunitas pendengar radio untuk berjualan. Dibanding dotcom yang lain, radioclick sudah memiliki komunitas dari sister-sister company mereka yang merupakan stasiun-stasiun radio.

Koridor.com dan nasgor.com merupakan sister company dari bubu.com jelas Surya Witoelar. Koridor.com bergerak sebagai portal berita, sedangkan nasgor.com lebih kepada portal utama yang juga menyediakan free email dll. Lemahnya koneksi internet merupakan salah satu penghambat saat itu, berikut dengan masih kurangnya pengguna internet dan belum adanya konsep monetisasi portal berita yang jitu. “Banyak advertizers belum tau dan percaya beriklan di dotcom”.

Aria Rajasa membawa cerita yang berbeda. Ia memulai usahanya sharingfoto.com setelah bubble pertama pecah. Konsepnya adalah menjual pernak-pernik gimmick semacam baju dan mug dimana user dapat print foto mereka diatasnya.

The DotCom Phenomenon
Era fenomena dotcom mulai terbentuk pada tahun 1998 dengan semakin accessible-nya internet (walau masih dialup dengan kecepatan 12 s/d 33 kbps di Indonesia) serta pesatnya perkembangan IT baik dari sektor korporat maupun indie. Ide bahwa kita dapat mengakses informasi dari segala penjuru dunia dan berbelanja apapun (selama ditawarkan di internet) di depan komputer anda dalam kenyamanan rumah seakan kita hidup di masa depan yang menegangkan. A great time for technology.

Portal-portal dotcom waktu itu seperti Altavista, AOL, Amazon, Yahoo, Hotmail, Geocities, dan banyak lagi, tiba-tiba kebanjiran investasi dari banyak venture capitalist. Tak hanya mereka, namun banyak dotcom-dotcom startup tiba-tiba kaya mendadak dengan investasi baru dari perusahaan-perusahaan yang takut ketinggalan kereta. Tiba-tiba lahir banyak CEO dan CTO, semua orang ingin invest di dotcom, walaupun belum jelas itu apa ataupun logis tidaknya business plan yang ditawarkan.

“Seringkali dotcom hanya kuat dari segi IT-nya saja”, jelas Dibya, “Karena yang tertarik bikin dotcom saat itu sebagian besar orang IT”.

Tak hanya di Indonesia, di luar negeri pun begitu. Lahir dotcom baru berbentuk B2C atau lebih dikenal dengan e-store saat ini, namun mereka tidak memiliki pengalaman untuk menjalankan sisi brick and mortar atau bisnis konvensionalnya, seperti logistik, hubungan dengan supplier, produsen, manajemen keuangannya, dll. Mereka memiliki keahlian teknis IT, namun lemah dalam business plan dan eksekusi business plan tersebut.

“Jangankan yang tidak memiliki business plan, dotcom dengan business plan saja karam”, tambah Surya. Ia menjalankan koridor.com bersama dengan kakaknya Aria dan sepupunya Satya. Aria adalah yang memegang sisi bisnis serta operasional, Surya menjalankan sisi IT dan Satya untuk desain. Secara operasional, mereka berjalan layaknya sebuah perusahaan yang baik. Sisi teknologi dan bisnis terpenuhi, namun mengapa bisa crash?

Walaupun besarnya investasi yang masuk pada dotcom-dotcom pada saat itu, namun secara finansial sebagian besar dotcom merugi besar. Internet masih tanda tanya besar bagi perusahaan-perusahaan dan belum terbukti penetrasi marketnya, apa lagi perusahaan Indonesia yang boro-boro ngerti internet itu apa. Dotcom yang hidup bergantung pada iklan (hampir semuanya pada saat itu) adalah yang paling pertama merasakan himpitan ekonomi. Jumlah pengguna internet yang hanya 500.000 di Indonesia saat itu belum banyak menggerakkan pelaku bisnis untuk beriklan di dotcom saat itu.

“Belum ada yang namanya ad sense saat itu”, jelas Akbar. “Dotcom masih mencari formula yang tepat untuk berjalan, dan itu bagian yang paling asik saat itu”. Dibya pun menambahkan bahwa saat itu mereka sampai menjual jepit rambut dan sendal jepit secara online.  “Dengan harga sendal jepit cuma 5000, dijual secara online mau untung berapa?”, kata Dibya.

“Pada akhirnya bottom line menjadi penentu”, seru Aria. Walau sharing foto sudah menghasilkan keuntungan bersih 5-8 juta perbulannya, itu tidak menjanjikan untuk berkembang kedepannya. Dengan profit margin sebesar itu, investasi tenaga dan waktu yang telah ditanamkan tidak akan terbayar dalam waktu dekat. Akbar pun menjelaskan hal yang sama. Walau ojolali sudah mendapatkan income puluhan juta tiap bulannya, mereka harus tutup juga dikarenakan overhead yang besar. Jumlah investasi yang telah masuk tidak dapat diimbangi dengan profit yang didapatkan. Dengan kata lain banyak dotcom first bubble itu bakar duit.

Sedond Bubble Burst?
Surya menjelaskan bahwa pasti akan ada second bubble burst. Jika dotcom menjadi euphoria yang tidak terkendali seperti dulu, pasti akan terjadi dalam waktu dekat atau lambat. Yang bisa kita lakukan adalah memperlambat terjadinya dengan mulai berbisnis secara serius. Harus seimbang antara sisi teknologi dan sisi bisnisnya.

Sekarang lebih mudah, pengguna internet Indonesia yang lebih dari 45 juta (data 2009, http://www.internetworldstats.com) serta begitu pesatnya pertumbuhan social media, melakukan bisnis online harus creatif, inovatif, dan cepat. “Social media dapat membantu berkembangnya startup online dan juga membunuhnya”, Jelas Aria Rajasa. Setelah gagal dengan sharingfoto.com, ia belum kapok dan membuka gantibaju.com yang merupakan toko baju online. “Komunitas memainkan peranan besar dalam memajukan usaha online”, tambahnya. Gantibaju.com seringkali mengadakan kegiatan offline dan bahkan membuka outlet offline di FX.

Yang terjadi di first bubble adalah banyaknya perusahaan yg ingin ikut dalam usaha dotcom sehingga mereka invest, karena dotcom tidak menghasilkan income yang banyak mereka jual lagi (untuk dapat fresh money atau investasi), dan jual lagi dan lagi, hingga ketitik tidak ada yang mau beli lagi, namanya tercoreng, dan disitulah awalnya bubble burst. Impactnya ya terasa oleh dotcom yang sebetulnya memiliki business plan yang bagus juga, karena masyarakat bisnis kehilangan kepercayaan pada dotcom.

So guys, mari kita pastikan jangan sampai terjadi dotcom bubble burst kedua, apalagi kalau terjadinya di Indonesia yang kini sedang disorot sebagai Mecca baru perkembangan IT dan telekomunikasi dari segi besarnya pasar dan kemampuannya. Akan banyak venture capitalist (VC) yang akan masuk dengan banyak investasi. Choose wisely, do it smart.

Sebetulnya masih banyak yang dibicarakan malam itu, sayangnya sudah capek dan pegel saya nulisnya, so next time dateng aja sendiri ke acara-acara FreSh. See you guys at our next event.

3 Responses to “FreSh: Fallen DotComs”

  1. Iwan Kurniawan November 2, 2010 at 6:39 am #

    Wah ketinggalan berita lagi gue. pembicaraannya keren pasti nih, bikin lagi dong.

  2. Wulan Hapsari June 13, 2011 at 9:08 am #

    mohon jelasin dong.. first buble itu apa? * bingung..
    kalo mo bikin usaha jasa online kira2 gmn yak… misal jasa spanduk online.. mohon pencerahannya
    makasih..

    • Chandra Marsono July 3, 2011 at 12:44 am #

      First bubble itu adalah era dimana web business pertama kali berkembang. Saat tersebut jumlah pengguna dan teknologi belum seperti sekarang, jadi semua harapan pada internet terlalu besar dan menggelembung seperti sebuah bubble.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: