Archive | Freelancing RSS feed for this section

Business Opportunities 2011

27 Dec

Bagi anda yang berminat untuk melakukan usaha sebagai entrepreneur ataupun franchisee ditahun 2011 ini bersama saya, berikut adalah hal yang saya tawarkan di awal tahun 2011 ini, dari yang win-win hingga yang berupa investasi. Siapa tahu ada yang sesuai.

  1. Online Testing Site
    Jika anda tertarik untuk develop sebuah online testing site, saya siap memberikan lifetime royalty.
  2. Franchise kursus bahasa Inggris Oxford Course Indonesia
    Bagi anda yang ingin berbisnis di bidang pendidikan, saya menawarkan franchise kursus bahasa Inggris Oxford Course Indonesia dengan franchise fee yang murah, khususnya untuk diluar pulau Jawa.
  3. Testing Centre
    Bagi anda yang sudah memiliki kursus bahasa Inggris atau sejenis, saya menawarkan membuat testing centre di tempat anda.
  4. Investasi Sekolah Komputer
    Saya sedang mencari investor untuk mendirikan sebuah sekolah komputer.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi saya via email di: chandramarsono2.0 [at] gmail.com atau hubungi +6221 4754412 (office hours).

FreSh: Online Business Outlook 2011

25 Dec

Acara Freedom of Sharing (FreSh) kembali diadakan pada Rabu malam (22/12/2010) di Graha Citra Caraka, Telkom. Acara yang dihadiri oleh 102 orang ini bertajuk FreSh:Online Business Outlook 2011, dengan pembicara Aulia Masna (E27), Abul A’la Almaujudy (Indonesian Blackberry Community), Yuswohady (Penulis Buku Marketing) dan our own Pitra Satvika (Stratego).

Acara dimulai dengan pembukaan oleh bapak Romano Roring, head of retail marketing PT.Telkom, dilanjutkan dengan diskusi panel oleh Aulia Masna dan  Abul A’la Almaujudy mengenai Online Business Outlook 2011 khususnya dari segi mobile gadget. Mulai dari apps hingga rumor gadget yang akan keluar seperty Blackberry Playbook hingga tablet berbasis Meego dari Nokia, hingga perkembangan dan fokus dari masing-masing produsen baik hardware dan software di tahun 2011.

Acara dilanjutkan dengan wejangan dari Yuswohady. Penulis buku CROWD dan mantan chief executive Markplus Institute of Marketing ini berbicara mengenai Consumer 3000 yang merupakan pengaruh GDP $3000 di Indonesia dan bagaimana masyarakat akan berkembang terhadap teknologi dan strategi marketingnya.

Acara hari itu ditutup oleh Pitra Satwika yang memberikan kilas balik 2010 serta outlook business online 2011 di Indonesia.

FoWAB #4

13 Dec

Sabtu lalu (11 December 2010), saya memenuhi undangan dari Anggi Krisna; pentolan (emangnya korek) Ruang Freelance, untuk menjadi pembicara di FoWAB; Forum Web Anak Bandung. Selain saya, ada para freelancer legendaris sebagai pembicara, yaitu Harry JH (digitalgrafis), Bayu Gunantyo (creativectors) dan Ollie (kutukutubuku). Yah, emang “dia-lagi-dia-lagi”, but its the circle of friends I like. Mereka memiliki passion yang sama dengan saya dan suka berbagi ilmu, and they all kick ass.

Ajang ini juga jadi moment reunian dengan para ex-GF (Godote Forum) yang sudah lama dan bahkan belum sempat ketemu in person, serta bertemu dengan para teman-teman yang selama ini cuma ngobrol online. Kenal Anggi dah lama tapi ketemu dia in person baru 2 kali. It was fun ngumpul di cafe S28 di jalan Sulanjana dan bertemu dengan teman-teman lama dan bertemu dengan yang baru.

Singkat cerita, saya yakin ulasan acara akan ditulis oleh perwakilan FoWAB atau perwakilan Daily Social yang kemarin hadir, jadi gak akan relevant kalau saya menceritakan isi acara waktu itu, namun saya menulis postingan ini karena ada beberapa hal yang lupa saya utarakan saat FoWAB #4 kemarin akibat mefetnya waktu:

Jangan Jadi Freelancer Kalau Kamu BukanJagoan
Maksudnya, kalau kamu di kantor bekerja males-malesan, gak beres, kalah saing sama meja sebelah, jangan jadi freelancer di bidang itu juga, pasti ancur dan gak jauh beda dengan nasibmu kerja sama orang. You suck at it. Freelancing is about doing the thing you love and is passionate about in freedom. Seperti kata om Rene Suhardono bilang, “cari passion kamu!”, ntar kalau dah ketemu passion atau keahlian kamu, baru deh jadi freelancer.

Freelancing Bukan Tabrak Lari
Sebuah perusahaan punya X karyawan, kalau gak bagus atau client gak suka bisa dibuang. Kalau freelancer ya cuma satu, ya itu elu. Jangan ngambil kerjaan berdasarkan teori “Tabrak Lari”. Sebagai freelancer anda memiliki kemewahan “memilih” client, dan setelah dipilih ya tanggung jawab. Deliver hasil yang memuaskan, jaga hubungan yang baik, sesekali telpon dan bukan untuk minta kerjaan aja, tapi ya nanya kabarnya atau berikan selamat pada ulang tahunnya atau apa. Hubungan buruk dengan client berakibat gak dikasih kerjaan lagi atau paling parah ya client nyebar word of mouth tentang pekerjaan kamu yang tidak memuaskan. Citra kamu sebagai freelancer ada ditanganmu.

Perhatikan Expiration Date Pada Dirimu
Sehebat-hebatnya dirimu sebagai seorang freelancer, saat ini ada bayi yang masih ingusan dan ngompol yang siap menggantikan posisimu dan akan jauh lebih hebat darimu, jadi kenali dirimu, pastikan anda produktif sekarang sebelum anda expired kayak daging di supermarket.

Jangan Jadi Freelancer Selamanya
Kalau gak suka jadi karyawan ya jadilah freelancer, tapi jangan jadi freelancer selamanya, jadilah employer.

Ok, segitu aja. Semoga nampol. Slide presentasi akan saya uload di slideshare saya, tapi kayaknya udah diupload di Ruangfreelance juga.

Articles on FOWAB 4
– Daily Social : Event Review FOWAB #4 All About Freelance
– iRockumentary: Fowab #4 Preview
– Fowab.org

FreSh: Fallen DotComs

1 Nov

Bertempat di Thamrin City, semalam (29/10/2010) diadakan Freedom of Sharing atau FreSh mengenai dotcom-dotcom yang telah crash priode 1998-2005, yaitu era first bubble dan post bubble sebelum era kebangkitan dotcom (2007 hingga kini). Mengambil judul FreSh Fallen DotComs, committee FreSh ingin menghadirkan para pelaku bisnis dotcoms yang sudah crash dengan tujuan agar mereka dapat menceritakan mengapa dotcom mereka bisa crash, dan pelajaran apa yang dibawa dari pengalaman tersebut.

Acara malam itu juga diramaikan oleh kehadiran kawan-kawan dari FreSh daerah lain, yaitu Didut (RoTi FreSh) dan Bryan (FreSh Surabaya). Didut bercerita sedikit mengenai sepak terjang RoTi FreSh yang kini telah menginjak 1 tahun lebih melakukan kegiatan dan rencana mereka kedepan untuk melakukan penetrasi FreSh pada sekolah-sekolah.

Back to the main topic of the show, para pembicara malam itu adalah Surya Witoelar (ex CEO nasgor.com dan koridor.com), Akbar Zainuddin (ex CEO ojolali.com), dan Dibya Pradana (ex grouphead radioclick.com). Mereka mewakili dotcom first bubble, sedangkan Aria Rajasa (ex CEO sharingfoto.com) mewakili era post bubble.

Akbar Zainuddin bercerita tentang awal mula ojolali.com yang berawal sebagai experimental lab yang lalu berkembang menjadi portal jual beli. Ia menjelaskan pentingnya saat itu untuk mendapatkan user dengan sistem registrasi, dan mempertahankan loyalti mereka dengan newsletter. Ojolali berhasil menggaet 20.000 user hingga akhir hayatnya, angka yang besar untuk tahun 2002.

Dibya Pradana yang secara tidak resmi mewakili radioclick.com (karena John Tumiwa berhalangan hadir, Dibya hadir sebagai penonton, ditembak ditempat jadi pembicara) menceritakan bagaimana konsep radioclick yang berupa shopping portal bagi para komunitas pendengar radio untuk berjualan. Dibanding dotcom yang lain, radioclick sudah memiliki komunitas dari sister-sister company mereka yang merupakan stasiun-stasiun radio.

Koridor.com dan nasgor.com merupakan sister company dari bubu.com jelas Surya Witoelar. Koridor.com bergerak sebagai portal berita, sedangkan nasgor.com lebih kepada portal utama yang juga menyediakan free email dll. Lemahnya koneksi internet merupakan salah satu penghambat saat itu, berikut dengan masih kurangnya pengguna internet dan belum adanya konsep monetisasi portal berita yang jitu. “Banyak advertizers belum tau dan percaya beriklan di dotcom”.

Aria Rajasa membawa cerita yang berbeda. Ia memulai usahanya sharingfoto.com setelah bubble pertama pecah. Konsepnya adalah menjual pernak-pernik gimmick semacam baju dan mug dimana user dapat print foto mereka diatasnya.

The DotCom Phenomenon
Era fenomena dotcom mulai terbentuk pada tahun 1998 dengan semakin accessible-nya internet (walau masih dialup dengan kecepatan 12 s/d 33 kbps di Indonesia) serta pesatnya perkembangan IT baik dari sektor korporat maupun indie. Ide bahwa kita dapat mengakses informasi dari segala penjuru dunia dan berbelanja apapun (selama ditawarkan di internet) di depan komputer anda dalam kenyamanan rumah seakan kita hidup di masa depan yang menegangkan. A great time for technology.

Portal-portal dotcom waktu itu seperti Altavista, AOL, Amazon, Yahoo, Hotmail, Geocities, dan banyak lagi, tiba-tiba kebanjiran investasi dari banyak venture capitalist. Tak hanya mereka, namun banyak dotcom-dotcom startup tiba-tiba kaya mendadak dengan investasi baru dari perusahaan-perusahaan yang takut ketinggalan kereta. Tiba-tiba lahir banyak CEO dan CTO, semua orang ingin invest di dotcom, walaupun belum jelas itu apa ataupun logis tidaknya business plan yang ditawarkan.

“Seringkali dotcom hanya kuat dari segi IT-nya saja”, jelas Dibya, “Karena yang tertarik bikin dotcom saat itu sebagian besar orang IT”.

Tak hanya di Indonesia, di luar negeri pun begitu. Lahir dotcom baru berbentuk B2C atau lebih dikenal dengan e-store saat ini, namun mereka tidak memiliki pengalaman untuk menjalankan sisi brick and mortar atau bisnis konvensionalnya, seperti logistik, hubungan dengan supplier, produsen, manajemen keuangannya, dll. Mereka memiliki keahlian teknis IT, namun lemah dalam business plan dan eksekusi business plan tersebut.

“Jangankan yang tidak memiliki business plan, dotcom dengan business plan saja karam”, tambah Surya. Ia menjalankan koridor.com bersama dengan kakaknya Aria dan sepupunya Satya. Aria adalah yang memegang sisi bisnis serta operasional, Surya menjalankan sisi IT dan Satya untuk desain. Secara operasional, mereka berjalan layaknya sebuah perusahaan yang baik. Sisi teknologi dan bisnis terpenuhi, namun mengapa bisa crash?

Walaupun besarnya investasi yang masuk pada dotcom-dotcom pada saat itu, namun secara finansial sebagian besar dotcom merugi besar. Internet masih tanda tanya besar bagi perusahaan-perusahaan dan belum terbukti penetrasi marketnya, apa lagi perusahaan Indonesia yang boro-boro ngerti internet itu apa. Dotcom yang hidup bergantung pada iklan (hampir semuanya pada saat itu) adalah yang paling pertama merasakan himpitan ekonomi. Jumlah pengguna internet yang hanya 500.000 di Indonesia saat itu belum banyak menggerakkan pelaku bisnis untuk beriklan di dotcom saat itu.

“Belum ada yang namanya ad sense saat itu”, jelas Akbar. “Dotcom masih mencari formula yang tepat untuk berjalan, dan itu bagian yang paling asik saat itu”. Dibya pun menambahkan bahwa saat itu mereka sampai menjual jepit rambut dan sendal jepit secara online.  “Dengan harga sendal jepit cuma 5000, dijual secara online mau untung berapa?”, kata Dibya.

“Pada akhirnya bottom line menjadi penentu”, seru Aria. Walau sharing foto sudah menghasilkan keuntungan bersih 5-8 juta perbulannya, itu tidak menjanjikan untuk berkembang kedepannya. Dengan profit margin sebesar itu, investasi tenaga dan waktu yang telah ditanamkan tidak akan terbayar dalam waktu dekat. Akbar pun menjelaskan hal yang sama. Walau ojolali sudah mendapatkan income puluhan juta tiap bulannya, mereka harus tutup juga dikarenakan overhead yang besar. Jumlah investasi yang telah masuk tidak dapat diimbangi dengan profit yang didapatkan. Dengan kata lain banyak dotcom first bubble itu bakar duit.

Sedond Bubble Burst?
Surya menjelaskan bahwa pasti akan ada second bubble burst. Jika dotcom menjadi euphoria yang tidak terkendali seperti dulu, pasti akan terjadi dalam waktu dekat atau lambat. Yang bisa kita lakukan adalah memperlambat terjadinya dengan mulai berbisnis secara serius. Harus seimbang antara sisi teknologi dan sisi bisnisnya.

Sekarang lebih mudah, pengguna internet Indonesia yang lebih dari 45 juta (data 2009, http://www.internetworldstats.com) serta begitu pesatnya pertumbuhan social media, melakukan bisnis online harus creatif, inovatif, dan cepat. “Social media dapat membantu berkembangnya startup online dan juga membunuhnya”, Jelas Aria Rajasa. Setelah gagal dengan sharingfoto.com, ia belum kapok dan membuka gantibaju.com yang merupakan toko baju online. “Komunitas memainkan peranan besar dalam memajukan usaha online”, tambahnya. Gantibaju.com seringkali mengadakan kegiatan offline dan bahkan membuka outlet offline di FX.

Yang terjadi di first bubble adalah banyaknya perusahaan yg ingin ikut dalam usaha dotcom sehingga mereka invest, karena dotcom tidak menghasilkan income yang banyak mereka jual lagi (untuk dapat fresh money atau investasi), dan jual lagi dan lagi, hingga ketitik tidak ada yang mau beli lagi, namanya tercoreng, dan disitulah awalnya bubble burst. Impactnya ya terasa oleh dotcom yang sebetulnya memiliki business plan yang bagus juga, karena masyarakat bisnis kehilangan kepercayaan pada dotcom.

So guys, mari kita pastikan jangan sampai terjadi dotcom bubble burst kedua, apalagi kalau terjadinya di Indonesia yang kini sedang disorot sebagai Mecca baru perkembangan IT dan telekomunikasi dari segi besarnya pasar dan kemampuannya. Akan banyak venture capitalist (VC) yang akan masuk dengan banyak investasi. Choose wisely, do it smart.

Sebetulnya masih banyak yang dibicarakan malam itu, sayangnya sudah capek dan pegel saya nulisnya, so next time dateng aja sendiri ke acara-acara FreSh. See you guys at our next event.

FreSh Meetup October: Fallen DotComs

25 Oct

FreSh (Freedom of Sharing) kembali hadir di bulan Oktober ini dengan tema: Fallen Dot Coms.

Dengan semakin banyaknya startup-startup online di tahun 2010 ini, ada baiknya kita berkenalan dengan para CEO, founder dan presdir dari dotcom era first bubble. Mereka akan bercerita soal bisnis dotcom dahulu, apa yang menyebabkan dot com mereka karam, dan pelajaran apa yang dapat diambil dari kejadian tersebut.

Failure is the best lesson, mari kita belajar dari pengalaman mereka, hikmat apa yang mereka dapatkan, dan bagaimana pelajaran tersebut membantu mereka kedepan. Learn from them, build a more awesome online business future.

Waktu dan Tempat
Jum’at 29 Oktober 2010
Thamrin City Lt.2 (Mezzanine)

Pembicara
– Surya Witoelar, ex CEO Koridor.com
– Aria Rajasa, ex Principal Sharingfoto.com
– Akbar Zainuddin, ex CEO Ojolali.com (tentative)

Turut meramaikan adalah kehadiran dari pengurus FreSh Surabaya dan RoTi FreSh dari Semarang, serta para beberapa blogger-blogger yang rencananya akan hadir dalam Pesta Blogger 2010.

Acara ini GRATIS!!
Tidak dipungut sepeser pun, tapi kalau mau memberi sumbangan atau kontribusi untuk acara-acara FreSh, silahkan menghubungi sdri Risna atau Ollie.

FreSh: Inspiration Night

28 Sep

Bekerjasama dengan British Council, FreSh kembali mengadakan acara rutin bulanannya dengan tema Inspiration Night pada Rabu, 23 September 2010. Fokus yang diangkat malam tersebut adalah mengenai pariwisata di Indonesia dan bagaimana dunia online serta kreativitas berperan didalamnya.

Inilah pertama kali FreSh Jakarta melakukan acara di luar daerah ibukota Jakarta, tepatnya di hotel Santika Serpong Tangerang. Diantara peserta yang hadir adalah masyarakat kreatif, online, pengusaha muda, dan mahasiswa-mahasiwi dari daerah Karawaci, Serpong, Depok, dan kota Tangerang, serta para FreShers dari Jakarta yang amat-amat setia mengikuti acara ini menerjang mautnya macet rush hour pulang kantor dari Jakarta.

Selain itu juga hadir para partisipan dari IYCE (Indonesian Young Creative Entrepreneur) dan CEC (Community Entrepreneur Challenge) British Council. Total attendance malam itu mencapai lebih dari 120 orang, tidak terhitung mereka yang datang telat dan tidak register.

FreSh menghadirkan tiga pembicara pada malam itu, yaitu Nukman Luthfie (Virtual Consulting), Panca Sarungu (Indonesian Travel Expo), dan Riri Riza (Miles Films).

Pembicara pertama pada malam itu adalah pak Nukman Luthfie dari Virtual Consulting. Beliau menjelaskan mengenai pentingnya online selling dan branding pada produk-produk lokal serta pariwisata. Dari pentingnya cara mengemas sebuah produk dengan bena, hingga mengemas sebuah paket perjalanan atau wisata menjadi sebuah hal yang menarik. Kepuasan pelanggan serta cara kita berinteraksi dengan mereka juga penting, baik itu disampaikan secara personal atau dengan memantau via social media. Belia juga secara singkat memperkenalkan Juale.com sebagai tempat untuk menjual secara online.

Panca Sarungu yang memulai bisnis wisatanya secara online dengan Bulanmadu.com dan IndoMICE.com menceritakan sedikit pengalamannya serta mengenai proyeknya 2 tahun terakhir ini mengadakan event offline pariwisata bertajuk Indonesian Travel Expo yang merupakan ajang expo pariwisata terbesar di Indonesia. Event tersebut mempromosikan pariwisata-pariwisata Indonesia dan menjualnya secara paket dan bulk sales kepada agen-agen perjalanan baik dalam dan luar negeri. Ia juga berbagi mengenai prospek pariwisata 2011 serta bagaiman sebuah daerah dapat menjadi sebuah daerah wisata yang menjual.

Pembicara terakhir kita pada malam itu adalah Riri Riza. Beliau berbicara mengenai pengalamannya di pulau Belitung saat hunting lokasi untuk Laskar Pelangi. Ia menceritakan proses pra produksi hingga pasca produksi, serta dampak film serta novel terhadap pariwisata di Belitung dan kesempatan-kesempatan yang digunakan penduduk setempat.

Ia juga mengangkat pentingnya pemerintah serta masyarakat untuk menyadari kekuatan dari film, bagaimana pemda negara lain memberikan uang kepada pembuat film untuk shooting di kota/daerah mereka sehingga mereka terekspos, dan biasanya pembuat film akan menghabiskan 3-4 kali uang yang diberikan oleh pemda. Selain ada income di daerah mereka karena ada film, tapi juga ada imbas turisme secara tidak langsung hasil dampak film tersebut, baik dalam bentuk awareness hingga minat secara langsung.

Terima kasih kepada para FreShawan dan FreShwati yang telah hadir, begitu pula dengan masyarakat, mahasiswa dan seluruh peserta yang hadir dalam perhelatan FreSh di BSD kali ini, memupuk semangat kamu untuk melaksanakan beberapa acara FreSh di luar Jakarta seperti di Depok, Bekasi atau Bogor di kedepannya. Terima kasih sebesar-besarnya untuk para pembicara dan British Council. Sampai bertemu di acara FreSh berikutnya.






Cara mendapatkan client secara offline (battle proven concept)

6 Sep

I should charge you all for this advice, ini adalah jawaban untuk pertanyaan yang selalu menjadi pertanyaan para newbie freelancers ataupun entrepreneurs. Pertanyaan yang mereka malu saat saya minta ada yang bertanya pada sesi seminar atau training, eh pas istirahat ketemu saya secara personal dan bertanya. Jadi simak dan pahami baik-baik.

Pernahkah anda jatuh cinta hingga anda harus bisa mendapatkannya?

Kalau belum pernah, kasiaaaan deh lu. Tapi pasti anda pernah ingin sekali menarik perhatian seseorang, entah itu teman, guru, ortu, atau siapapun. Atau mungkin anda pernah jatuh cinta pada sebuah mainan di toko dan ingin sekali mendapatkannya. Well its the same thing, mendapatkan client akan membuat anda melakukan hal-hal yang anda lakukan untuk mendapatkan cinta tersebut. Setidaknya artikel ini selain untuk mendapatkan client bisa juga untuk mencari cinta bagi para jomblo diluar sana.

Who Do You Love? And Why?
Pertama-tama ya anda harus punya target dong. Jangan sok jadi Cassanova dan mempersolek diri sendiri tanpa tujuan, ada juga bakal dikira anda aneh atau banci. Anda itu mau mendekati siapa? Pilih client dan pekerjaan yang menjadi incaran anda secara spesifik. Ingat, “spesifik”. Kalau gak mampu jangan sok jadi Jack of All Trades (si Asmagada), be a professional at what you do, jadi pilih benar pekerjaan yang jadi incaran anda selain siapa clientnya.

Contoh: “Saya ingin sekali bekerja sama dengan PT.Sedna untuk melakukan pekerjaan di bidang HTML5 programming.”

Yup, be that specific. Sama seperti kalau anda pengen mencintai seseorang: “Saya ingin dicintai oleh si Cindy karena kita sama-sama punya interest di bidang karambol”. Jangan ketawa luh, it works.

Kalau Gak Kenal, Maka Gak Sayang
Setelah tahu targetmu, ya kenalan dong! Gimana kamu mau cinta sama si Cindy kalau kamu gak tahu sedikitpun tentang dia. Main jadian aja ternyata dia dah punya cowok, atau ternyata ada tatonya di punggung bertuliskan 666. Sama juga dengan potential client anda.

Mulainya dari mana?? Ah gaptek banget luh, di google, yahoo atau bing dulu kek. Mudah2an ada artikelnya di Wikipedia. Kalau gak ada secuil artikel tentang perusahaan mereka di web, you need to re-think your priority. Ok, seorang wanita yang misterius tentunya menggoda, tapi kalau sebuah perusahaan yang tidak ada orang kenali atau mencoba memperkenalkan diri, you need to re-think apakah akan baik untuk portfolio anda. Atau mungkin akan menjadi business opportunity bagi anda? You make the call.

Ngaca, Poles Penampilanmu, Be Prepared
Ya lu kan gak mungkin nge-gembel untuk bertemu dengan si Cindy. Setidaknya ya atraktif. Kalau sudah kenal target anda, ya sesuaikan penampilan anda. Kalau mau ke client yang berhubungan dengan musik ya jangan pake jas dan dasi, kalau mau ke client yang sangat corporate ya jangan juga nge-jeans dan beroblong-ria. You may have to look fake, but your intentions should never be fake.

Selain itu bawa hal yang mencerminkan profesionalitas kamu, seperti misalnya company profile yang telah didesain secara bagus (Butuh desain bagus? Hubungi saya *wink*) dan merepresentasikan bahwa kamu professional. Isi lengkap dengan portfolio, surat-surat rekomendasi dari client lama, NPWP, surat-surat legalitas usaha (kalau ada) atau surat berkelakuan baik dari pak RT kalau perlu (dan dibutuhkan oleh client, tau client dari mana? Wah lo ngga’ nyimak, ayo baca dari awal!).

Ya kalau mau ketemu Cindy jangan bawa surat dari client lama (maksudnya surat dari pacar lama), bawlah yang dia sukai seperti bunga, coklat, atau kalau dia penggemar gaple ya bawa kartu gaple lah.

Kenalan Dong, Nama Saya…
Next step, ya kenalan. Approach Cindy dengan segala cara. Mungkin kamu akan bertemu dengan bapaknya yang kumisan, coba deh ajak main catur (film Rano Karno banget), siapa tau setelah itu bisa ketemu ama si Cindy.

Hal sama harus anda lakukan ke client. Makanya gue suruh pelajari dulu, lu tuh mo ngapain? Jangan main dateng ketemu Satpamatau receptionist untuk minta ketemu bos perusahaan, ada juga antara diketawain atau disuruh duduk di ruang tunggu sampai tahun depan (mengusir pelan-pelan).

Kadang kala dalam urusan cinta *halah*, kita kudu pendekatan yang amat spesial pake telor. Untuk apa saja pendekatannya gue gak akan buka semua (mau tau semuanya, dateng dong ke workshop gue, hehehe), but I’ll give you one.

Bikin surat pengantar dulu dan kirim beserta portfolio anda ke departemen yang ingin anda tuju. Bisa ke Marketing, Sales atau ke Purchasing. Minta waktu untuk presentasi di surat itu. Selain itu coba lakukan…. oops, ntar aja pas workshop 🙂

Give Her A Big Show!
Kalau dah berhasil dikasih waktu untuk presentasi, ya lakukan yang terbaik. As I said, dress accordingly dan coba kamu presentasikan dirimu dalam 5 menit, satu menit kalau bisa. Mereka sudah sering ketemu orang kayak kamu, jadi jangan sampai over present. Mereka gak butuh teori ini itu, tapi apa yang bisa kamu kerjakan, how fast and how much.

Sama lah kayak si Cindy, gadis bahenol yang menjadi pujaan para lelaki sekampung. Dah sering dia ketemu cowok yang ngomong gombal, mendingan dia kenalan sama orang yang gak tertarik pada dia (pura-puranya) tapi bisa memberikan apa yang dia inginkan tanpa basa-basi: “Eh katanya lo demen main gaple, gue lagi pas bawa kartu gaple nih segepok…”

The Proposal
Kalo dah kenal dan bikin target seneng, jangan lama-lama nembaknya mas, langsung aja bilang: “Cindy sayang, pacaran yuk!!”. Kalo kelamaan lupa. Mahluk Corporat dan remaja macam Cindy itu punya attention span yang pendek, jadi secepatnya tawarin lo maunya apa. My ending statement is usually: “Saya berharap kita dapat bekerja sama dalam waktu dekat ini” atau “Saya menunggu kabar baik dari bapak-bapak”. Melancholy? F*c# You, ini namanya cari kerja, jangan sok cool deh. Gue dodol bin bocor kalau di luar, tapi di board room gue kayak CEO yang udah kerja ratusan tahun, attitude matters.

And if you forget, kita hidup di dunia yang kata pak guru itu dah Globalisasi, semuanya serba cepat, jadi ya get your point across as fast as you can.

Last Note
Kalau urusan cinta, nembak sekali aja (kecuali putus), kalau soal client, lakukan terus menerus sampai dapat coy. Gue gak pernah bilang kan kalau ini bakal mudah. Good luck!