Tag Archives: Freelance

FoWAB #4

13 Dec

Sabtu lalu (11 December 2010), saya memenuhi undangan dari Anggi Krisna; pentolan (emangnya korek) Ruang Freelance, untuk menjadi pembicara di FoWAB; Forum Web Anak Bandung. Selain saya, ada para freelancer legendaris sebagai pembicara, yaitu Harry JH (digitalgrafis), Bayu Gunantyo (creativectors) dan Ollie (kutukutubuku). Yah, emang “dia-lagi-dia-lagi”, but its the circle of friends I like. Mereka memiliki passion yang sama dengan saya dan suka berbagi ilmu, and they all kick ass.

Ajang ini juga jadi moment reunian dengan para ex-GF (Godote Forum) yang sudah lama dan bahkan belum sempat ketemu in person, serta bertemu dengan para teman-teman yang selama ini cuma ngobrol online. Kenal Anggi dah lama tapi ketemu dia in person baru 2 kali. It was fun ngumpul di cafe S28 di jalan Sulanjana dan bertemu dengan teman-teman lama dan bertemu dengan yang baru.

Singkat cerita, saya yakin ulasan acara akan ditulis oleh perwakilan FoWAB atau perwakilan Daily Social yang kemarin hadir, jadi gak akan relevant kalau saya menceritakan isi acara waktu itu, namun saya menulis postingan ini karena ada beberapa hal yang lupa saya utarakan saat FoWAB #4 kemarin akibat mefetnya waktu:

Jangan Jadi Freelancer Kalau Kamu BukanJagoan
Maksudnya, kalau kamu di kantor bekerja males-malesan, gak beres, kalah saing sama meja sebelah, jangan jadi freelancer di bidang itu juga, pasti ancur dan gak jauh beda dengan nasibmu kerja sama orang. You suck at it. Freelancing is about doing the thing you love and is passionate about in freedom. Seperti kata om Rene Suhardono bilang, “cari passion kamu!”, ntar kalau dah ketemu passion atau keahlian kamu, baru deh jadi freelancer.

Freelancing Bukan Tabrak Lari
Sebuah perusahaan punya X karyawan, kalau gak bagus atau client gak suka bisa dibuang. Kalau freelancer ya cuma satu, ya itu elu. Jangan ngambil kerjaan berdasarkan teori “Tabrak Lari”. Sebagai freelancer anda memiliki kemewahan “memilih” client, dan setelah dipilih ya tanggung jawab. Deliver hasil yang memuaskan, jaga hubungan yang baik, sesekali telpon dan bukan untuk minta kerjaan aja, tapi ya nanya kabarnya atau berikan selamat pada ulang tahunnya atau apa. Hubungan buruk dengan client berakibat gak dikasih kerjaan lagi atau paling parah ya client nyebar word of mouth tentang pekerjaan kamu yang tidak memuaskan. Citra kamu sebagai freelancer ada ditanganmu.

Perhatikan Expiration Date Pada Dirimu
Sehebat-hebatnya dirimu sebagai seorang freelancer, saat ini ada bayi yang masih ingusan dan ngompol yang siap menggantikan posisimu dan akan jauh lebih hebat darimu, jadi kenali dirimu, pastikan anda produktif sekarang sebelum anda expired kayak daging di supermarket.

Jangan Jadi Freelancer Selamanya
Kalau gak suka jadi karyawan ya jadilah freelancer, tapi jangan jadi freelancer selamanya, jadilah employer.

Ok, segitu aja. Semoga nampol. Slide presentasi akan saya uload di slideshare saya, tapi kayaknya udah diupload di Ruangfreelance juga.

Articles on FOWAB 4
– Daily Social : Event Review FOWAB #4 All About Freelance
– iRockumentary: Fowab #4 Preview
– Fowab.org

Advertisements

Ada lowongan gak??

18 Jan

This conversation happened a few days ago, pada sebuah acara berbuka puasa bersama dengan teman-teman sekolah dulu.

Girl : Hey Chandra, apa kabar??
Chandra (me) : Kabar baik. Dah lama nih gak ketemu, kemana aja nih?
Girl : Masih di Jakarta, kerja di accounting perusahaan mobil. Dah berkeluarga Chan?
Chandra : Alhamdulillah sudah, lo gimana?
Girl : Belum, cariin dong. By the way, lo kerja dimana Chan sekarang?? Masih di periklanan?
Chandra : Gue kerja jadi freelance sekarang.
Girl : Wah, sering denger tuh? Lagi populer sekarang perusahaan tuh. Ada lowongan gak??
Chandra : ….. (??!?!!?)

Manajemen Finansial untuk Freelancer

16 Feb

Tak sedikit freelancer yang mengalami masalah dalam bidang kuangan, baik dari yang pemula hingga mereka yang telah makan banyak asam garam di dunia freelancing. Itu disebabkan karena banyak dari kita tidak pernah mengalami proses disiplin keuangan sejak kecil, dan sebagian besar dari kita adalah desainer, programmer, illustrator, dan bukan akuntan keuangan.

Ketidakmampuan kita dalam mengatur keuangan juga membawa kita pada masalah pricing, dimana kita sering kali bingung berapa harga yang pantas untuk diajukan kepada klien. Tak luput juga adalah masalah modal usaha jika kita harus membayar dimuka sebuah pekerjaan seperti cetak misalnya, membeli foto, ataupun membeli/upgrade perangkat hardware maupun software guna mendukung spek pekerjaan.

Mindset kebanyakan freelancer masih tertumpu bahwa dia bekerja sendirian dan bukan pada dia bekerja untuk dirinya sendiri. Seorang freelancer harus cepat sadar bahwa saat dia memutuskan diri untuk bekerja menjadi seorang freelancer, dirinya telah berubah menjadi sebuah institusi penyedia jasa. Dirinya kini menjadi sebuah perusahaan, dan layaknya sebuah perusahaan, dia butuh kapital.

Ada dua sistem mengatur keuangan yang simple dan dapat diadopsi dengan mudah oleh freelancer, yang pertama adalah metode “bagi hasil” dan yang kedua adalah metode “gajian”.

Metode Bagi Hasil

Seringkali diadopsi oleh freelancer yang baru sadar akan pentingnya keuangan yang baik, metode ini memaksa kita untuk menyisihkan sebagian pendapatan kita untuk modal usaha kita. Sebagai contoh adalah pembagian sesuai persentase, yaitu 60-40, dimana dalam setiap pendapatan uang akan dibagi 60% kepada diri anda dan 40% kepada perusahaan. Rasio persentase yang ideal adalah 40-60, dimana 40% masuk ke kantong anda dan 60% masuk ke rekening usaha anda. Namun rasio ini dapat anda rubah sesuai dengan kebutuhan anda.

Metode Gajian

Metode ini lebih bersih dan sesuai dengan pembukuan keuangan pada umumnya, namun lebih kompleks jika anda pemula. Inti dari metode ini adalah memberi diri anda gaji yang sesuai pada tiap bulannya. Berbeda dengan metode bagi hasil dimana sebagian persentase masuk ke rekening usaha, pada metode ini 100% dari penghasilan masuk ke rekening usaha.

Tetapkan gaji anda perbulan, dan gajilah diri anda tiap bulannya. Ini bukan berarti disaat keuangan usaha anda menipis anda akan terus digaji, tapi gaji anda akan dibuat sebagai hutang perusahaan, dan dapat dibayarkan jika keuangan usaha cukup.

Keuangan usaha juga dibuat batas minimumnya, sebagai contoh adalah anda membatasi keuangan perusahaan pada level 15 juta rupiah minimum, artinya saat keuangan pada angka 15 juta atau kurang anda tidak akan mendapat gaji. Dari sini anda dapat belajar soal prioritas keuangan.

Kedua metode ini memiliki tujuan yang sama, yaitu membagi keuangan antara diri anda sendiri sebagai pekerja dengan usaha freelancer anda. Tujuannya agar anda mendapat uang anda sendiri, dan usaha anda juga dapat berkembang dengan modalnya sendiri.

Jadi saat pekerjaan menuntut anda mengeluarkan uang dahulu, usaha anda yang keluar uang, bukan anda. Saat komputer anda rusak atau perlu upgrade, usaha anda yang akan keluar uang, bukan anda.

Keduanya bukan metoda yang gampang untuk dimulai, perlu sedikit disiplin. Jika sudah memiliki NPWP, anda dapat membuka rekening giro atas nama anda untuk usaha anda, sistem dimana anda harus menulis cek untuk mengeluarkan uang anda dijamin akan males untuk mengambil uang tersebut kecuali untuk urusan pekerjaan. Jika ingin menuju finansial yang sehat, silahkan mencoba.

Artikel ini merupakan re-posting dari Ruang Freelance yang ditulis oleh saya sendiri.