Archive | September, 2010

FreSh: Inspiration Night

28 Sep

Bekerjasama dengan British Council, FreSh kembali mengadakan acara rutin bulanannya dengan tema Inspiration Night pada Rabu, 23 September 2010. Fokus yang diangkat malam tersebut adalah mengenai pariwisata di Indonesia dan bagaimana dunia online serta kreativitas berperan didalamnya.

Inilah pertama kali FreSh Jakarta melakukan acara di luar daerah ibukota Jakarta, tepatnya di hotel Santika Serpong Tangerang. Diantara peserta yang hadir adalah masyarakat kreatif, online, pengusaha muda, dan mahasiswa-mahasiwi dari daerah Karawaci, Serpong, Depok, dan kota Tangerang, serta para FreShers dari Jakarta yang amat-amat setia mengikuti acara ini menerjang mautnya macet rush hour pulang kantor dari Jakarta.

Selain itu juga hadir para partisipan dari IYCE (Indonesian Young Creative Entrepreneur) dan CEC (Community Entrepreneur Challenge) British Council. Total attendance malam itu mencapai lebih dari 120 orang, tidak terhitung mereka yang datang telat dan tidak register.

FreSh menghadirkan tiga pembicara pada malam itu, yaitu Nukman Luthfie (Virtual Consulting), Panca Sarungu (Indonesian Travel Expo), dan Riri Riza (Miles Films).

Pembicara pertama pada malam itu adalah pak Nukman Luthfie dari Virtual Consulting. Beliau menjelaskan mengenai pentingnya online selling dan branding pada produk-produk lokal serta pariwisata. Dari pentingnya cara mengemas sebuah produk dengan bena, hingga mengemas sebuah paket perjalanan atau wisata menjadi sebuah hal yang menarik. Kepuasan pelanggan serta cara kita berinteraksi dengan mereka juga penting, baik itu disampaikan secara personal atau dengan memantau via social media. Belia juga secara singkat memperkenalkan Juale.com sebagai tempat untuk menjual secara online.

Panca Sarungu yang memulai bisnis wisatanya secara online dengan Bulanmadu.com dan IndoMICE.com menceritakan sedikit pengalamannya serta mengenai proyeknya 2 tahun terakhir ini mengadakan event offline pariwisata bertajuk Indonesian Travel Expo yang merupakan ajang expo pariwisata terbesar di Indonesia. Event tersebut mempromosikan pariwisata-pariwisata Indonesia dan menjualnya secara paket dan bulk sales kepada agen-agen perjalanan baik dalam dan luar negeri. Ia juga berbagi mengenai prospek pariwisata 2011 serta bagaiman sebuah daerah dapat menjadi sebuah daerah wisata yang menjual.

Pembicara terakhir kita pada malam itu adalah Riri Riza. Beliau berbicara mengenai pengalamannya di pulau Belitung saat hunting lokasi untuk Laskar Pelangi. Ia menceritakan proses pra produksi hingga pasca produksi, serta dampak film serta novel terhadap pariwisata di Belitung dan kesempatan-kesempatan yang digunakan penduduk setempat.

Ia juga mengangkat pentingnya pemerintah serta masyarakat untuk menyadari kekuatan dari film, bagaimana pemda negara lain memberikan uang kepada pembuat film untuk shooting di kota/daerah mereka sehingga mereka terekspos, dan biasanya pembuat film akan menghabiskan 3-4 kali uang yang diberikan oleh pemda. Selain ada income di daerah mereka karena ada film, tapi juga ada imbas turisme secara tidak langsung hasil dampak film tersebut, baik dalam bentuk awareness hingga minat secara langsung.

Terima kasih kepada para FreShawan dan FreShwati yang telah hadir, begitu pula dengan masyarakat, mahasiswa dan seluruh peserta yang hadir dalam perhelatan FreSh di BSD kali ini, memupuk semangat kamu untuk melaksanakan beberapa acara FreSh di luar Jakarta seperti di Depok, Bekasi atau Bogor di kedepannya. Terima kasih sebesar-besarnya untuk para pembicara dan British Council. Sampai bertemu di acara FreSh berikutnya.






Community Entrepreneur Training: Governing and Funding Social Enterprises

27 Sep

Held on the 21st to the 23rd of September 2010 at the Santika Serpong hotel’s Parigi room, the British Council held its final training session with selected semi finalist of the Community Entrepreneur Challenge (CEC) on governing and funding. Once again I had the honour of assisting in the training sessions with two other trainers already known by fellow CEC participants: mrs.Rini Sudaryani from Unpad and mr.Bijaksana Junerosano from Greeneration Indonesia (GI).

The first day was opened with mrs.Rini getting input on the participant’s expectations of the training, with a mix of ice breaking and simple exercises to set the pace. Day one of the training was mostly filled with my training materials on Community Involvement & Engagement in the first half of the day, and with Marketing Analysis on the later part of the day. With Sano’s help, we managed to get a lively discussion on both topic with time to spare. We even had time to squeeze in Fajar’s topic on Alex Osterwalder‘s Business Model Canvas.

After the first day sessions and a moment to freshen up, participants got catered to an innovative session with some of Indonesia’s creative individuals. Hoping to broaden the participants perspectives with a presentation from Chandra Tresnadi (founder of Nitiki) andย  (film director).

The second day started with another one of my training material on Funding and Financing Social Enterprises through means of traditional ways (investors, banks, donations, etc), and nontraditional ways such as philanthropies, venture capitalists, public shares, etc, also the risks and opportunities that surrounds it. Fajar from the British Council also helped by giving the participants examples, names and addresses of available philanthropist, organizations and venture capitalists out there who might be interested in social enterprise models.

The rest of the day the participants started working on their business model canvas with the guidance of mrs.Rini and Fajar. Working in groups, the participants made presentations of their business model they translated from their proposals and Logframe. The day was closed with mrs.Rini’s material on Social Audit, the way to measure success of a social enterprise, combining the materials I’ve given and other materials we’ve given on previous trainings to create a measuring and control tool that helps in conducting social audit.

After the second day sessions and a moment to freshen up, participants wereย  catered to an inspirational session held by FreSh. The speakers of the session were Nukman Luthfie (juale.com), Panca Sarunggu (Indonesia Travel Fair) and Riri Riza (film director). The focus on that inspiration night was about tourism, you can read more about it here.

Finally we came to the third day of the training.
The day started with a presentation on Social Marketing by a representative from the Arthur Guiness Fund, mr.Fred Otineo. He explains on the differences and commonality that traditional marketing have with social marketing. The session was followed by a mr.Romi Cahyadi, who delivered a material on Converting Community Organizations into Social Enterprise, and a discussion that followed.

Mr.Heri from the British Council announced the 10 finalist of the CEC, after which we carried out a world-cafe session where the 10 semi finalists had to present their business model canvas in just 2 minutes to every table. This is the first world cafe success for me, since I’ve never had a successful world cafe exercise.

The day isn’t over yet. A screening of a short film about the struggles of the factory workers in Venezuela began the final session. It was about how the workers began a cooperative company after the factory ceased production and was heading to bankruptcy.

The day was closed by a presentation from mr.Wahyu from AKSI (Indonesian Association of Social Entrepreneurs) which explained the programs of the organization and how to be part of it. After that mrs.Rini and I closed the training with awarding the top three participants of the program.

Personal Impressions
From my point of view, I have never been this happy sitting in a room with 45 other entrepreneurs. These entrepreneurs are not just ordinary entrepreneurs, they have a social agenda and all equally important. It was hard for me to review their proposals and not be sympathetic towards their cause, I’m just glad I’m not one of the jury with the job of having to pick out the winner. Best part of all, they all had spunk and a eager to learn, and it was a great honour for me to be able to share what I know with them and coach them.

Not only that, the participants of the CEC were also really creative entrepreneurs, I mean one is making fertilizers out of rabbit piss, another is colouring batik using everyday fruits, another is making food out of tofu waste, and those examples are just the tip of the iceberg, there’s 45 people here with creative ideas, and +600 out there that sent in the proposals also with their own creative ideas, how amazing is that?

I wish them well in the years ahead and praying for their success, as their success will help this country become a stronger nation.

We hope that the CEC program continues and those who participated in the training will continue their struggle in creating their social enterprises to succession. For those of you interested in being a part of CEC, the second batch is coming this December, be prepared. Get your proposals and idea ready and stay tuned to the British Council.


My training materials can be found and downloaded at the British Council Indonesia’s website and also on Slideshare, just follow the links below to access them.
Community Involvement & Engagement
Marketing Analysis
Funding & Financing Social Enterprise

Cara mendapatkan client secara offline (battle proven concept)

6 Sep

I should charge you all for this advice, ini adalah jawaban untuk pertanyaan yang selalu menjadi pertanyaan para newbie freelancers ataupun entrepreneurs. Pertanyaan yang mereka malu saat saya minta ada yang bertanya pada sesi seminar atau training, eh pas istirahat ketemu saya secara personal dan bertanya. Jadi simak dan pahami baik-baik.

Pernahkah anda jatuh cinta hingga anda harus bisa mendapatkannya?

Kalau belum pernah, kasiaaaan deh lu. Tapi pasti anda pernah ingin sekali menarik perhatian seseorang, entah itu teman, guru, ortu, atau siapapun. Atau mungkin anda pernah jatuh cinta pada sebuah mainan di toko dan ingin sekali mendapatkannya. Well its the same thing, mendapatkan client akan membuat anda melakukan hal-hal yang anda lakukan untuk mendapatkan cinta tersebut. Setidaknya artikel ini selain untuk mendapatkan client bisa juga untuk mencari cinta bagi para jomblo diluar sana.

Who Do You Love? And Why?
Pertama-tama ya anda harus punya target dong. Jangan sok jadi Cassanova dan mempersolek diri sendiri tanpa tujuan, ada juga bakal dikira anda aneh atau banci. Anda itu mau mendekati siapa? Pilih client dan pekerjaan yang menjadi incaran anda secara spesifik. Ingat, “spesifik”. Kalau gak mampu jangan sok jadi Jack of All Trades (si Asmagada), be a professional at what you do, jadi pilih benar pekerjaan yang jadi incaran anda selain siapa clientnya.

Contoh: “Saya ingin sekali bekerja sama dengan PT.Sedna untuk melakukan pekerjaan di bidang HTML5 programming.”

Yup, be that specific. Sama seperti kalau anda pengen mencintai seseorang: “Saya ingin dicintai oleh si Cindy karena kita sama-sama punya interest di bidang karambol”. Jangan ketawa luh, it works.

Kalau Gak Kenal, Maka Gak Sayang
Setelah tahu targetmu, ya kenalan dong! Gimana kamu mau cinta sama si Cindy kalau kamu gak tahu sedikitpun tentang dia. Main jadian aja ternyata dia dah punya cowok, atau ternyata ada tatonya di punggung bertuliskan 666. Sama juga dengan potential client anda.

Mulainya dari mana?? Ah gaptek banget luh, di google, yahoo atau bing dulu kek. Mudah2an ada artikelnya di Wikipedia. Kalau gak ada secuil artikel tentang perusahaan mereka di web, you need to re-think your priority. Ok, seorang wanita yang misterius tentunya menggoda, tapi kalau sebuah perusahaan yang tidak ada orang kenali atau mencoba memperkenalkan diri, you need to re-think apakah akan baik untuk portfolio anda. Atau mungkin akan menjadi business opportunity bagi anda? You make the call.

Ngaca, Poles Penampilanmu, Be Prepared
Ya lu kan gak mungkin nge-gembel untuk bertemu dengan si Cindy. Setidaknya ya atraktif. Kalau sudah kenal target anda, ya sesuaikan penampilan anda. Kalau mau ke client yang berhubungan dengan musik ya jangan pake jas dan dasi, kalau mau ke client yang sangat corporate ya jangan juga nge-jeans dan beroblong-ria. You may have to look fake, but your intentions should never be fake.

Selain itu bawa hal yang mencerminkan profesionalitas kamu, seperti misalnya company profile yang telah didesain secara bagus (Butuh desain bagus? Hubungi saya *wink*) dan merepresentasikan bahwa kamu professional. Isi lengkap dengan portfolio, surat-surat rekomendasi dari client lama, NPWP, surat-surat legalitas usaha (kalau ada) atau surat berkelakuan baik dari pak RT kalau perlu (dan dibutuhkan oleh client, tau client dari mana? Wah lo ngga’ nyimak, ayo baca dari awal!).

Ya kalau mau ketemu Cindy jangan bawa surat dari client lama (maksudnya surat dari pacar lama), bawlah yang dia sukai seperti bunga, coklat, atau kalau dia penggemar gaple ya bawa kartu gaple lah.

Kenalan Dong, Nama Saya…
Next step, ya kenalan. Approach Cindy dengan segala cara. Mungkin kamu akan bertemu dengan bapaknya yang kumisan, coba deh ajak main catur (film Rano Karno banget), siapa tau setelah itu bisa ketemu ama si Cindy.

Hal sama harus anda lakukan ke client. Makanya gue suruh pelajari dulu, lu tuh mo ngapain? Jangan main dateng ketemu Satpamatau receptionist untuk minta ketemu bos perusahaan, ada juga antara diketawain atau disuruh duduk di ruang tunggu sampai tahun depan (mengusir pelan-pelan).

Kadang kala dalam urusan cinta *halah*, kita kudu pendekatan yang amat spesial pake telor. Untuk apa saja pendekatannya gue gak akan buka semua (mau tau semuanya, dateng dong ke workshop gue, hehehe), but I’ll give you one.

Bikin surat pengantar dulu dan kirim beserta portfolio anda ke departemen yang ingin anda tuju. Bisa ke Marketing, Sales atau ke Purchasing. Minta waktu untuk presentasi di surat itu. Selain itu coba lakukan…. oops, ntar aja pas workshop ๐Ÿ™‚

Give Her A Big Show!
Kalau dah berhasil dikasih waktu untuk presentasi, ya lakukan yang terbaik. As I said, dress accordingly dan coba kamu presentasikan dirimu dalam 5 menit, satu menit kalau bisa. Mereka sudah sering ketemu orang kayak kamu, jadi jangan sampai over present. Mereka gak butuh teori ini itu, tapi apa yang bisa kamu kerjakan, how fast and how much.

Sama lah kayak si Cindy, gadis bahenol yang menjadi pujaan para lelaki sekampung. Dah sering dia ketemu cowok yang ngomong gombal, mendingan dia kenalan sama orang yang gak tertarik pada dia (pura-puranya) tapi bisa memberikan apa yang dia inginkan tanpa basa-basi: “Eh katanya lo demen main gaple, gue lagi pas bawa kartu gaple nih segepok…”

The Proposal
Kalo dah kenal dan bikin target seneng, jangan lama-lama nembaknya mas, langsung aja bilang: “Cindy sayang, pacaran yuk!!”. Kalo kelamaan lupa. Mahluk Corporat dan remaja macam Cindy itu punya attention span yang pendek, jadi secepatnya tawarin lo maunya apa. My ending statement is usually: “Saya berharap kita dapat bekerja sama dalam waktu dekat ini” atau “Saya menunggu kabar baik dari bapak-bapak”. Melancholy? F*c# You, ini namanya cari kerja, jangan sok cool deh. Gue dodol bin bocor kalau di luar, tapi di board room gue kayak CEO yang udah kerja ratusan tahun, attitude matters.

And if you forget, kita hidup di dunia yang kata pak guru itu dah Globalisasi, semuanya serba cepat, jadi ya get your point across as fast as you can.

Last Note
Kalau urusan cinta, nembak sekali aja (kecuali putus), kalau soal client, lakukan terus menerus sampai dapat coy. Gue gak pernah bilang kan kalau ini bakal mudah. Good luck!

Time Out Jakarta magazine with my baby girl

5 Sep

On the September 2010 issue of Time Out Jakarta (TOJ) magazine, page 64, with other parents of The Urban Mama forum (www.theurbanmama.com). The article is on out children’s baby babbles and the things they say that makes us laugh out loud. More on baby babbles here.

Malas itu jurus ampuh jadi Entrepreneur

3 Sep

Malas? Ya betul! Malas itu adalah teman baik para entrepreneur. Kok bisa begitu? Ilmu sesat nih?

Well lets put it this way, saya berangkat sebagai seorang freelancer yang amat sangat rajin mengerjakan semuanya secara one man show hingga suatu hari saya “malas” mengerjakan apapun tapi masih pengen dapet duit. Jadi karena saya malas splicing image untuk menjadi template website, saya mulai sub kontrak splicing ke orang lain. Pada project berikutnya, kok jadi malas ya ngurusin programming, PHP, dkk. Mulai jugalah saya sub pekerjaan tersebut ke orang, hingga akhirnya semua pekerjaan yang saya dapat dikerjakan oleh orang lain. Saya cukup bertindak sebagai project manager dan bagian Quality Assurance. Eh trus males jadi project manager, well you know the rest.

Karena males-nya saya, saya punya lebih banyak waktu untuk bertemu dengan dan mendapatkan lebih banyak client dan projects. Work quantity naik, quality tetap terjaga. Itulah policy malas yang saya terapkan sejak 2002, and it has worked wonders. From a freelancer kini menjadi sebuah usaha dengan mempekerjakan para freelancers lainnya, itu semua berkat saya malas.

Akhirnya, saking malesnya saya, usaha itu dijalankan orang lain kini, dan saya memulai usaha baru. Oh ya, saya juga sudah mulai malas lagi loh…

Jadi malas itu sangat berguna asal anda tau cara mengatasinya. ๐Ÿ˜‰

Pembicaraan aneh…

3 Sep

Seumur-umur belum pernah gue dibilang rapi. Gue yakin nyokap dan istri gue ketawa kalo sampai tau tweet-tweet berikut ini:

@salsabeela : #FF @chandramarsono moderator dadakan #StartupLokal meetup v5 yg juga salah satu orang paling rapi (yg gue tau) dalam ngurusin keuangan

@nukman : @salsabeela cara berpakaian @chandramarsono juga rapih diantara netters

@setrinaldi : sepakad saya pak ๐Ÿ˜› > @nukman: @salsabeela cara berpakaian @chandramarsono juga rapih diantara netters

@salsabeela : @sefrinaldi @nukman @chandramarsono hehe ok saya juga sepakat deh ๐Ÿ˜€

WTH?!!?!

Purchase Order, next best thing to a contract

2 Sep

Purchase Order atau surat pembelian merupakan sebuah surat yang dikeluarkan oleh purchasing guna pengadaan barang atau jasa dalam sebuah perkantoran. Dengan kata lain, sebuah Purchase Order (PO) itu sama saja dengan perintah kerja atau perintah pembelian sebuah barang.

Walau bukan kontrak, namun sebuah PO setidaknya memiliki legitimasi yang hampir serupa, yaitu bukti penunjukkan (siapa yang diberi kuasa untuk mengerjakan) serta pemesanan. Hal ini setidaknya cukup untuk mewakili bukti terjadinya sebuah penunjukkan oleh satu perusahaan ke individu (freelancer) atau perusahaan lain untuk melakukan sesuatu yang sudah disetujui oleh pihak pemberi perintah.

Bedanya PO dengan kontrak tentunya ada pada detail. Walau spesifik dalam penunjukkan serta jasa atau barang yang dibeli dalam sebuah PO, namun bagaimana pengerjaannya masih bersifat universal atau tanpa pakem yang jelas. Tidak ada klausa-klausa kecil yang melindungi seperti: “Jika materi pekerjaan belum masuk hingga 2 minggu setelah kontrak, maka dikenakan biaya waiting period sebesar X”.

So, sebuah PO mungkin next best thing to a contract, but nothing covers you more than a contract. Seriously, make a contract to tighten and seal the deal. Jangan sampai terlena karena sudah dapat PO, karena sebuah PO hanya dapat melindungi pekerjaan anda sampai titik tertentu.